SOSIALISASI DAN REMBUK STUNTING
Sebagian besar masyarakat mungkin belum memahami istilah yang disebut
stunting.
Stunting
adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan
gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan
pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek
(kerdil) dari standar usianya.
Kondisi tubuh anak yang pendek
seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang
tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat
apa-apa untuk mencegahnya. Padahal seperti kita ketahui, genetika
merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila
dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi,
budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain,
stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah.
Salah satu fokus pemerintah saat ini adalah pencegahan
stunting.
Upaya ini bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan
berkembang secara optimal dan maksimal, dengan disertai kemampuan
emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu
berinovasi dan berkompetisi di tingkat global.
Ibu Husna Djaina, SST dari Puskesmas Kecamatan Randangan menerangkan Beberapa kondisi/perlakuan sebagai penyebab stunting
1) Pola Makan
Masalah
stunting dipengaruhi oleh rendahnya akses terhadap makanan dari segi
jumlah dan kualitas gizi, serta seringkali tidak beragam.
Istilah
''Isi Piringku'' dengan gizi seimbang perlu diperkenalkan dan
dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam satu porsi makan, setengah
piring diisi oleh sayur dan buah, setengahnya lagi diisi dengan sumber
protein (baik nabati maupun hewani) dengan proporsi lebih banyak
daripada karbohidrat.
2) Pola Asuh
Stunting juga dipengaruhi aspek perilaku, terutama pada pola asuh yang kurang baik dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan Balita.
Dimulai
dari edukasi tentang kesehatab reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai
cikal bakal keluarga, hingga para calon ibu memahami pentingnya memenuhi
kebutuhan gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin, serta memeriksakan
kandungan empat kali selama kehamilan.
Bersalin di fasilitas
kesehatan, lakukan inisiasi menyusu dini (IMD) dan berupayalah agar bayi
mendapat colostrum air susu ibu (ASI). Berikan hanya ASI saja sampai
bayi berusia 6 bulan.
Setelah itu, ASI boleh dilanjutkan sampai
usia 2 tahun, namun berikan juga makanan pendamping ASI. Jangan lupa
pantau tumbuh kembangnya dengan membawa buah hati ke Posyandu setiap
bulan.
Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah berikanlah
hak anak mendapatkan kekebalan dari penyakit berbahaya melalui imunisasi
yang telah dijamin ketersediaan dan keamanannya oleh pemerintah.
Masyarakat bisa memanfaatkannya dengan tanpa biaya di Posyandu atau
Puskesmas.
3) Sanitasi dan Akses Air Bersih Rendahnya akses
terhadap pelayanan kesehatan, termasuk di dalamnya adalah akses sanitasi
dan air bersih, mendekatkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi.
Untuk itu, perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir,
serta tidak buang air besar sembarangan.
''Pola asuh dan status
gizi sangat dipengaruhi oleh pemahaman orang tua (seorang ibu) maka,
dalam mengatur kesehatan dan gizi di keluarganya. Karena itu, edukasi
diperlukan agar dapat mengubah perilaku yang bisa mengarahkan pada
peningkatan kesehatan gizi atau ibu dan anaknya'', tutupnya.
Kegiatan ini dihadiri oleh Babinsa dan dibuka langsung oleh Kepala Desa Pelambane bapak Marlan Arnold serta tim Pendamping dari Kecamatan Randangan.
Sebagian besar masyarakat masyarakat desa pelambane sangat antuisias dalam mengikuti kegiatan sosialisasi dan rembuk stunting ini, hal di tunjukkan dengan banyaknya masyarakat yang memberikan pertanyaan kepada pemateri tentang stunting, Bapak maridu adam mempertanyakan bahwa apakah konsumsi ikan merupakan salah satu cara untuk mencegah stunting dll.
Pendamping desa dalam sambutannya bahwa fokus rembuk stunting ada pada 3 aspek yaitu :
1. Kesehatan Ibu dan Anak konseling Gizi Terpadu
2. Perlindungan sosial dan Jambanisasi
3. Pelayanan PAUD
menjadi dasar untuk rembuk stunting, rumah tangga sasaran ada 44 ruta, rumah tangga rentan stunting 3ruta , ibu hamil resti 3 orang, anak usia 0-23 bulan 38 orang, rumah tangga tidak mempunyai jamban 4 ruta.
harapannya dari pelaksanaan rembuk stunting ini ada program yang akan dilaksanakan oleh desa dan dituangkan dalam RKPDes tahun anggaran 2020.