Selasa, 27 Agustus 2019

SOSIALISASI DAN REMBUK STUNTING







Sebagian besar masyarakat mungkin belum memahami istilah yang disebut stunting. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Padahal seperti kita ketahui, genetika merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah.

Salah satu fokus pemerintah saat ini adalah pencegahan stunting. Upaya ini bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal, dengan disertai kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi di tingkat global.

Ibu Husna Djaina, SST dari Puskesmas Kecamatan Randangan menerangkan Beberapa kondisi/perlakuan sebagai penyebab stunting




1) Pola Makan

Masalah stunting dipengaruhi oleh rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, serta seringkali tidak beragam.

Istilah ''Isi Piringku'' dengan gizi seimbang perlu diperkenalkan dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam satu porsi makan, setengah piring diisi oleh sayur dan buah, setengahnya lagi diisi dengan sumber protein (baik nabati maupun hewani) dengan proporsi lebih banyak daripada karbohidrat.

2) Pola Asuh

Stunting juga dipengaruhi aspek perilaku, terutama pada pola asuh yang kurang baik dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan Balita.

Dimulai dari edukasi tentang kesehatab reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai cikal bakal keluarga, hingga para calon ibu memahami pentingnya memenuhi kebutuhan gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin, serta memeriksakan kandungan empat kali selama kehamilan.

Bersalin di fasilitas kesehatan, lakukan inisiasi menyusu dini (IMD) dan berupayalah agar bayi mendapat colostrum air susu ibu (ASI). Berikan hanya ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan.

Setelah itu, ASI boleh dilanjutkan sampai usia 2 tahun, namun berikan juga makanan pendamping ASI. Jangan lupa pantau tumbuh kembangnya dengan membawa buah hati ke Posyandu setiap bulan.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah berikanlah hak anak mendapatkan kekebalan dari penyakit berbahaya melalui imunisasi yang telah dijamin ketersediaan dan keamanannya oleh pemerintah. Masyarakat bisa memanfaatkannya dengan tanpa biaya di Posyandu atau Puskesmas.

3) Sanitasi dan Akses Air Bersih Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan, termasuk di dalamnya adalah akses sanitasi dan air bersih, mendekatkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi. Untuk itu, perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan.

''Pola asuh dan status gizi sangat dipengaruhi oleh pemahaman orang tua (seorang ibu) maka, dalam mengatur kesehatan dan gizi di keluarganya. Karena itu, edukasi diperlukan agar dapat mengubah perilaku yang bisa mengarahkan pada peningkatan kesehatan gizi atau ibu dan anaknya'', tutupnya.


Kegiatan ini dihadiri oleh Babinsa dan dibuka langsung oleh Kepala Desa Pelambane bapak Marlan Arnold serta tim Pendamping dari Kecamatan Randangan.
Sebagian besar masyarakat masyarakat desa pelambane sangat antuisias dalam mengikuti kegiatan sosialisasi dan rembuk stunting ini, hal di tunjukkan dengan banyaknya masyarakat yang memberikan pertanyaan kepada pemateri tentang stunting, Bapak maridu adam mempertanyakan bahwa apakah konsumsi ikan merupakan salah satu cara untuk mencegah stunting dll.

Pendamping desa dalam sambutannya bahwa fokus rembuk stunting ada pada 3 aspek yaitu :


1. Kesehatan Ibu dan Anak konseling Gizi Terpadu
2. Perlindungan sosial dan Jambanisasi
3. Pelayanan PAUD

menjadi dasar untuk rembuk stunting, rumah tangga sasaran ada 44 ruta, rumah tangga rentan stunting 3ruta , ibu hamil resti 3 orang, anak usia 0-23 bulan 38 orang, rumah tangga tidak mempunyai jamban 4 ruta.
harapannya dari pelaksanaan rembuk stunting ini ada program yang akan dilaksanakan oleh desa dan dituangkan dalam RKPDes tahun anggaran 2020.


SOSIALISASI DAN REMBUK STUNTING Sebagian besar masyarakat mungkin belum memahami istilah yang disebut stunting . Stunting adala...